TRIBUNNEWS.COM
MAKASSAR -- Aksi teror ke sejumlah gereja di Makassar masih berlanjut. Aksi teror terhadap gereja malah dilaporkan sudah dilakukan di siang hari.
Seorang penjaga gereja di Jl Gunung Nona Baru, melaporkan, kejadian pengrusakan di geraja yang ia jaga sekitar pukul sekitar pukul 15.00 wita, Sabtu (16/2/2013).
Warga di Jl Maccini melaporkan keberhasilan menggagalkan aksi tiga pria mencurigakan di sekitar Gereja Toraja di kawasan ini, sekitar pukul 01.00 wita.
Untuk meredam aksi teror dan kepanikan masyarakat, Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengumpulkan tokoh komunitas Toraja dan Tionghoa di Baruga Angin Mamiri, tadi malam.
Sementara Kepolisiain Resot Kota Besar (Polrestabes) Makassar mengumpulkan tokoh agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Sulsel di aula mapolrestabes, Jl Jenderal Ahmad Yani.
Pertemuan di mapolda tersebut dihadiri perwakilan majelis agama. Ada perwakilan majelis umat Islam Prof Dr M Ghalib M, Ketua Persatuan Gereja Indonesia Sulselbar Pendeta Untung SK Wijayaputra, pewakilan majelis Katolik Pastor Marselinus PM, perwakilan Hindu Nyoman Suartha, perwakilan Budha Yonggris, dan perwakilan Khonghucu Hans Hartono.
Kapolrestabes Kota Makassar, Kombes Wisnu Sajaya, mengatakan, pertemuan menyepakati membentuk Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa). Pembentukan “pasukan sipil” ini juga diakui atas instruksi Wali Kota Makassar.
Tokoh agama sepakat mengutuk tindakan teror ke gereja tersebut. Aksi itu dinilai penodaan kesucian agama dan karena tidak sesuai prinsip ajaran agama mana pun.
Mereka meminta penegak hukum mengambil langkah cepat dan tegas untuk mengungkap pelaku tindakan teror secara tuntas.
FKBU mengimbau warga tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi dan meyerahkan penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum. Pendeta Untung menegaskan, kejadian itu adalah teror."Ini adalah teror, karena telah membuat keresahan terhadap umat kami,” tegasnya.
Pendeta ini berharap agar kejadian ini segera diselesaikan serta kasus ini secepatnya ditangani secara transparan. "Harapan kami cepat ditangani, diusut. dan ditransparansikan, supaya kami tidak saling curiga," ujarnya.
Menurutnya, bahwa kasus yang terjadi di Makassar ini jangan hanya dicurigai sebagai kenakalan remaja dan aksi geng motor belaka sehingga tidak diusut tuntas. "Kami masih berharap karena Pak Kapolda telah membentuk tim khusus," kata Untung.
Nyoman Suartha mengatakan, pertemuan tokoh agama itu lebih pada usaha mencegah timbulnya kejadian teror ke depannya. "Pertemuan ini sepakat membentuk sebuah sistem tim pengamanan yang disebut Pam Swakarsa. Itu akan dikoordinir oleh polisi melibatkan pemerintah terkait,” katanya.
Kapolrestabes Kota Makassar, Kombes Wisnu Sajaya, mengatakan, pembentukan Pam Swakarsa dibentuk berdasar undang-undang (UU) kepolisian. Menurutnya, pembentukan “pasukan sipil” itu merupakan hasil koordinasi unsur muspida serta instruksi Wali Kota Makassar.
Instruksi tersebut berbentuk surat edaran kepada semua aparat kecamatan guna meningkatkan Pam Swakarsa demi mengamankan lingkungan setempat. "Pembentukan tim ini yang melibatkan masyarakat ini, bukan berarti pihak kepolisian akan lepaskan tangan tetapi juga akan melakukan patroli dan melakukan pembinaan," kata Wisnu.
Wisnu menjelaskan, dengan adanya tim tersebut, masyarakat akan turut serta membantu pihak kepolisian mengamankan wilayah di Makassar. Kehadiran tim itu dinilai sangat membantu karena keterbatasan personel polisi di daerah ini. "Tidak mungkin hanya pihak kepolisian semuanya, tentunya akan dibackup oleh berbagai pihak," ujarnya
Namun, Wisnu belum bisa menjamin apakah Pam Swakarsa “jilid II” itu akan efektif. Dia hanya berharap akan segera dilaksanakan. "Mudahan-mudahan bisa dengan secepatnya kita efektifkan," katanya.
Kapolres menunjuk langsung Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat (Kasat Binmas) Polrestabes Makassar untuk mengkoordinir Pam Swakarsa tersebut.
Ilham mengundang puluhan warga Tionghoa serta komunitas Toraja di rumah jabatan wali kota, tadi malam. Pertemuan dengan tokoh dua komunitas tersebut dilakukan berturut-turut.
"Malam ini saya merasa terpanggil untuk berbicara kepada saudara-saudara ku sekalian. Ini kita sedang diadu domba, ada yang ingin mengaduk konflik di tengah suasana politik di Makassar. Saya ingin tegaskan bahwa ini adalah pekerjaan orang biadab, dan mari bersatu untuk melawan orang itu,” jelas Ilham.
“Yakinlah, saya selaku Wali Kota Makassar akan selalu berdiri paling depan untuk memberikan jaminan keamanan kepada kalian semua," tegas Ilham menambahkan.
Ilham mengajak seluruh keturunan Tionghoa di Makassar tidak terpancing dengan upaya provokasi. "Kalau ada isu yang beredar, jika ada broadcast atau SMS, jangan langsung percaya, jangan langsung tutup toko, telepon saya, jangan terpengaruh dan ikut menuding pihak tertentu,” ujar Ilham.
Berselang lima belas kemudian, Ilham bertemu ratusan warga komunitas Toraja di Baruga Anging Mamiri.
Hadir Kapolrestabes Makassar, Kombespol Wisnu Sandjaya, Kepala Kantor Kementerian Agama Makassar, Abdul Wahid, Budayawan Sulsel Ishak Ngaljaratan, serta sejumlah tokoh agama. "Saya orang yang paling sedih jika kota kita ini rusak. Masa diujung pengabdian saya harus berakhir dengan kesan buruk. Janganlah bom botol ini merusak hubungan kita " ujar Ilham kepada ratusan warga Toraja.
Dalam pertemuan dengan Ilham itu, Ishak menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja polisi. "Polisi kita kok semakin mirip dengan polisi India di film, baru datang setelah kejadian selesai, dan tidak ada yang terungkap. Dulu katanya gubernur mau dibom di siang bolong. Inilah teroris paling bodoh sedunia. Masa disiang bolong, terus ditengah orang banyak. Polisi di mana," katanya.
Terpisah, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menilai. kepolisian sangat lemah dalam mengantisipasi kasus teror di rumah ibadah di kota ini.
Direktur LBH Makassar Abdul Azis mengatakan, polisi terkesan sangat lamban dalam merespon kejadian tersebut sehingga teror demi teror terus berlanjut. "Pihak kepolisian sangat lamban dalam mengantisipasi rentetan pelemparan bom molotov ini, sehingga dapat disimpulkan polisi lemah dalam deteksi dini," kata Azis.
Pengamat hukum yang juga mantan aktivis ini mendesak pihak kepolisian agar lebih proaktif dalam merespon masalah tersebut karena sangat sensitif dan dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat.
"Apapun motifnya, polisi harus lebih tegas, karena masalah bom ini sangat mempengaruhi keamanan dan kenyamanan warga Makassar. Kasus ini harus tuntas, segera cari tahu dalang di balik rentetan bom gereja. Di sinilah kredibilitas kepolisian dipertaruhkan," jelas Azis.(Tribun Timur/cr6/ilo)
0 komentar:
Posting Komentar